Ketika
musim tak lagi berpihak kepada sang bakung, entah mengapa semuanya seakan
berjalan berlawanan arah,, bahkan gelappun tak mampu menelan seluruh gelisah
yang semakin membuncah dan tak tertahankan, lalu, ia coba tak perduli lagi pada
daun yang berguguran,.. atau senja yang mulai memudar menenggelamkan cahaya
perlahan lahan.
Semakin
jauh, semakin terasa kesendirian sang bakung tanpa ilalang yang tertebas oleh
ganasnya waktu, semakin melumat semua sedih dan luka sang bakung. Baginya,
meratap pun tak bisa, tak ada luka yang terobati. hujan hanya menyisakan perih
dan kesendirian yang semakin erat memeluknya.
Ia
tau, semakin jauh bayangan ilalang itu masuk kedalam jiwanya, maka semakin
sulit lukanya terobati. ia sadar, semakin ia tenggelam dalam kisah yang lama,
semakin parah pula sayatan-sayatan sang waktu merenggutnya. Dan semakin lirih
ia menyebut namanya dalam doa, semakin tak berarti air matanya.
“ini
hanya sepenggal kisah”... katanya, namun tak ada bagian kasih yang tertulis
lagi, semuanya hanya mengisyaratkan sebuah luka...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar