Tangis perempuan paruh baya itu terkadang membelah malam lewat lantunan ayat-ayat Tuhan yang ia nyanyikan untuk putri dan suaminya... suaranya agak bergetar diiringi sedikit isak yang membuatku ikut terjaga dari tidur. perempuan itu yang rela tak melanjutkan sekolahnya untuk menikah dan membiayai sekolah adik-adiknya. Perempuan itu yang rela menjual mas kawinnya untuk sekolah anak gadisnya, dan dengan senyum ia berkata “sekolah seng rajin nak....”. perempuan itu yang salalu kurindukan dan kusebut disetipa tanganku menengadah memohon pada sang Khaliq. Perempuan hebat itu bukanlah Kartini, yang mampu menulis buku fenomenal “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang mampu mendirikan sekolah untuk kaumnya. Perempuan hebat itu juga bukan Cut Nyak Dien yang bisa berperang, bukan pula Khotijah yang mampu menjadi juragan sekaligus pemimpin wanita yang kaya raya. Perempuan itu hanya seorang istri kepala desa yang mengurusi ketiga putrinya. Ya.... beliau adalah Ibuku........
Dulu saat aku kecil, ketika ada tugas untuk bercerita tentang ibu, aku selalu bilang bahwa ibuku hebat karna pintar memasak. Kemudian saat aku mulai bersekolah di SMP, aku mulai menulis puisi tentang ibuku yang lemah lembut dan penyabar. Kemudian waktu yang terus bergulir semakin membuka tabir dan mengajariku mengenal seseorang yang selalu ku panggil dengan sebutan ibu itu. Ia buka hanya jago masak, penyabar dan penuh kasih sayang. Namun, dimataku ia adalah jelmaan dari sengat Kartini, jelmaan dari keberanian Cut Nyak Dien dan kelembutan Khatijah pun merasuk dalam diarinya.
Sebagai istri kelapa desa, secara otomatis beliau menjadi ketua PKK di desa. Dengan semangatnya mengabdi, beliau membuat program untuk memajuka gizi anak-anak di desa dan juga mementingkan pendidikan bagi anak. Ibu selalu mempunya trik tersendiri untuk mengurusi desa. Beliau adalah seorang istri pemimpin yang luar bisa. Ibu juga yang mengusulkan pada bapak supaya tanah bengkok tidak semuanya dipakai, tapi jadikan lapangan Voli untuk menambah kegiatan pemuda di desa yang kala itu banyak yang menjadi pemabuk. Kemudian sisanya biar digarapibu-ibu yang nganggur. Ibu dan bapak juga sangat mendukung kegiatan KARANG TARUNA di desa. Banyak usulan yang beliau sumbangkan untuk anak-anak muda desa. Bahkan ibu tak segan-segan ikut bermain voli bersama para pemuda-pemudi desa, walaupun dalam team tersebut ibu adalah orang yang paling tua.
Sebagai seorang istri, ibu lebih luar biasa lagi. Beberapa tahun lalu, tepatnya saat aku masih duduk di kelas dua SMA. Keluargaku mengalami musibah yang luar bisa, saat itu bapak dihipnotis oleh temanya sendiri, perlahan-lahan harta kami mulai habis, mulai dari kulkas, TV, motor, semuanya ludes karana dihamburkan oleh bapak. Tadinya aku sama sekali tidak tahu dengan hal itu, karna aku tinggal di asrama sekolah di Jogja, sedangkan Ibu ada di Purworejo. Suatu kali ibu datang menjengukku sendiri, tanpa ditemani oleh bapak. Kecurigaan mulai menderaku ketika bulan berikutnya Ibu menjengukku sendiri lagi. Ibu perpesan agar aku tidak pulang kerumah dulu, dan hal itu semakin membuatku penasaran. Akhirnya kuputuskan untuk pulang kerumah sehari setelah ibu menjenguk ku.
Benar saja, ternyata bapak hilang sudah ada dua bulan. Aku menangis sejadi-jadinya ketika mendengar kabar itu. Bagaimana bisa ibu selama itu dirumah sendiri, mencari uang untuk biaya menyewa intel dan untuk mengirimiku setiap bulan. Bagaimana bisa aku melihat ibu berada disawah, yang bahkan saat kecilnya ia tak pernah sama sekali melakuhkan pekerjaan itu. Bagaimana bisa belau menjadi buruh untuk memanenkan jagung sampai tanggannya melepuh karna melepaskan jagung dari tongkolnya yang banyaknya sampai lima karung. Tak tanggung-tanggung bahkan ibu juga “MBABU” menjadi pembantu ditempat adik perempuannya. Bagaimana bisa pekerjaan itu dilakuhkan oleh seorang istri kepala desa. Bagaimana wanita itu tetap survive dengan kondisinya saat itu. Bahkan saat seluruh keluarga sudah menyepakati untuk sebuah perceraian. Ibu masih bisa bertaha demi anak-anaknya.
Ibu tidak pernah mengeluh didepanku, semua keluh kesahnya ia ceritakan pada Tuhan, ia adukan semua masalahnya pada Maha Pemberi hidup. Ia jalani kerasnya pekerjaan itu dengan membuang label istri seorang Lurah yang dihormati. Ia ibu ku, yang berjalan dengan membawa ember plastik lusuh dengan clana yang bernoda lumpur lalu masih bisa menyapa warganya saat berpapasan. Ia adalah ibu ku... sosok pahlawan yang lauar biasa, yang tak mengajari ku sebuah teori-teori. Namun ia mengajarkan rumus untuk menjalani hidup agar terus berikhtiar dan pantang malu untuk hal yang benar!
Ketika bapak akhirnya ditemukan, ibu sama sekali tidak meinitika air mata. Ia tak sedikitpun memeluk atau mencuim tangan bapak. Walaupun aku tau diam-diam ibu menyeka air mata disudut mata kanannya. Beliau ingin bapak tahu betapa ia telah mati-matian bertahan dari serbuan orang-orang yang menagih hutang kerumah, bagaimana ia bisa menjadi seorang pekerja serabutan selama bapak gak ada. Beliau ingin sekali menyampaikan bahwa ia telah memaafkan bapak. Walupun kalimat itu tak bisa terucap dari bibirnya. Ketika pada akhirnya bapak sedikit sadar dan berlutut sambil menangis di depan ibu, hatinya mulai lega...dan ia bisa memaafkan dengan senyumnya yang dikulum.
Ibu bagaikan segelas jamu untuk ku. Ia tidak menawarkan secara instan khasiatnya, namun perlahan-lahan, rasa nyaman dan perasaan kuat akan menjalar beberapa saat setelah meminumnya, akan ada semangat baru yang muncul dari khasiat berbagai bahan-bahan didalamnya. Ia menularkan ketabahan dan perjuangan itu padaku. Kondisi keluarga yang masih carut-marut, membuat aku tak bisa memaksa mereka untuk membiaayai hasratku untuk mencicipi bangku kuliah. Namun bukan ibuku jika membiarkan semangat anaknya luntur. Bagaikan jamu, Ibu mengubah rasa pahit itu menjadi semangat untuk menantang ketidak berdayaan. belau selalu berkata “jare sopo ra ndue duit njur ra iso sekolah? Dadi bocah ki ojo ndelok mengisor terus, seng didelok yo mung lemah. Delok en menduwur sepisan-pisan, ben ngerti nek jeh ono Allah” ( kata siapa gak punya duit itu gak bisa sekolah? Dadi anak jangan meliah kebawah terus, yang dilihat yocuma tanah. Sekali-kali liat ke atas, biar tahu kalo masih ada Tuhan).
Hal terakhir yang membuat ibu luar biasa dihadapanku adalah saat beliau memutuskan untuk ke Jakarta hanya demi meliat aku diwisuda dan lulus dari SMA. Ibu berpesan padaku: “kalau kangen ibu, kagen no sama Allah, belajar yang rajin. Nanti kalau Ayu dah sukses, ibu ikut Ayu. Ndak pake ke Jakarta lagi buat jaga toko. Tapi bikin toko sendiri di durah”. Kata-kata ibu selalu menjadi mantra samapai aku bisa lulus dengan nilai yang sangat memuaskan.
Waktu menghadiri wisudaku, ibu dipersilahkan berdiri dan diberi tepuk tanga yang sangat meriah dari semua orang tua wali yang hadir saat prosesi wisuda tersebut. Ketika itu diumumkan bahwa aku mendapatka bea siswa full study di fakultas Psikologi UNAIR. Ibu tersenyum, senyum yang menyimpan sebuah kebanggaan. Jika ibu tahu, aku lebih bangga lagi terhadapa ibu. Ibu selalu membuktikan semua ucapannya dan selalu menepati janjinya.
Inilah sedikit crita tentang tentang ibu ku...... semua orang boleh saja bilang ia hanya orang kampung biasa.... tapi untuk ku..... semangat juang ibuku lebih dari seorang Kartini selalipun............ bahkan jika aku mengucap ribuan trimakasihpun tak kan cukup untuk mengganti setiap peluh yang ia teteskan demi aku. Aku bersyukur bahwa aku lahir dari seorang prempuan bernama “SUKESI”.............
http://www.welovehonda.com/kartinimuda/entry,detail,2100
