JIKA KAU INGIN MEMAKNAI SEBUAH KATA..................

Selasa, 19 Februari 2013


Light Rain
Oleh: She,29.
(bagian tersulit dari kisah ini adalah ketika aku melihatmu mencintai orang lain)
Kabut itu mulai datang kala aku duduk sendiri disamping jendela. Perlahan, rintik-rintik hujan mulai terasa membasahi tanganku. Mereka bergemricik hingga aku bisa merasakan angin meniup kedua kelopak mataku dengan lembut. “hujan... Za” gumamku................
            Entah mengapa hujan begitu dekat denganmu Za?, aku tak pernah tahu. Mungkin hujan laksana manik-manik kaca yang memantulkan cahaya matamu. Mungkin juga hujan bekerja secara mistis, mencairkan perasaanku dan membawa rasa ini yang tak tahu lagi berubah warna menjadi apa?, berubah rasa seperti apa? dan berubah bentuk menjadi apa?. namun yang pasti, perasaan itu ada, dan menempati sebuah relung yang telah lama kosong.
Hujan,, memaksaku merindumu, menyusupkan banyak tanya tentangmu. Apakah saat ini kau melihat hujan yang sama? merasakan perasaan yang sama? atau kau tidak menyukai hujan dan sedang kedinginan disana? Atau mungkin kau sedang menerawang dengan sebatang rokok dan segelas kopi panas?. Ah.. aku tak pernah tahu, dan tak cukup berani untuk menanyakannya. Inilah aku, tak mampu berbuat banyak dalam kisah ini.
Berapa kali hujan telah datang dan pergi dikota ini? Terkadang begitu deras, sisanya hanya gerimis yang turun dengan manja. Entah saat gerimis dibulan apa, ketika aku menatap takjub pada pelangi kembar dilangit pagi yang sayu. Saat itu kusadari bahwa hatiku telah pergi bersama rintik-rintik terakhir, bahwa mataku tak bisa lagi menatapmu dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Tak bisa lagi menatapmu tanpa mengabaikan bahwa suatu saat kau akan mencintai orang lain. Semuanya membuat sorot matamu yang biasa menjadi memancarkan sebuah makna yang tak jelas, dan selalu menjadi sebuah teka-teki didalam tempurung kepalaku.  Aku sadar telah memulainya dari sebuah kepingan-kepingan yang membentuk sebuah rasa, kemudian berproses dari awal aku mengenalmu hingga akhirnya tak sadar terjebak didalamnya.
***
 “ya.. hujan Na”. Hujan yang sama,,, di jendela yang berbeda. Hujan yang mengalirkan air kejalanan. Dan aku berusaha membuat sebuah parit kecil untuk mengalirkannya kearahku, namun pada akhirnya aku bingung karna muara ku belum siap menampung.
Takdir memang lucu ya Na?, ruangan yang sama. Sudut yang juga sama. Pandangan yang sama, saling mencari satu sama lain. Namun takdir mengatur kita untuk tidak saling tahu, tidak saling mengerti dan tidak saling memberi tanda. Takdir selalu membuat kita berfikir sebaliknya. Padahal.. semunya sama pada saat itu. Tidak ada janji memang, hanya sebuah cinta. Karna semuanya bisa berubah begitu saja dalam orang yang sama. Kau tahu Na? Saat itu benar-benar berat untukku.
Aku tak pernah tahu bahwa kau menyimpan rasa yang sama. hanya saja aku terlalu ragu. Maaf, yang kusesalkan adalah takdir yang tak berpihak pada kita saat itu. dan takdir baru mengatakannya sekarang padaku. Aku memang hanya berani untuk menyesal, membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Tidak ada satupun alasan untuk menegakkan kisah ini. Tidak dengan ketidakmampuanku.
 Aku hanya bisa berdiri diam. Merasakan, namun berpura-pura tak merasakan getaran. Aku menerima dan menjalaninya dengan diam. Perasaan ini seolah-olah menjadi salah ketika ditempatkan pada waktu dan orang yang berbeda. Pasrah! Dan saat ini, aku pun merasa telah memenggal kehidupanku sendiri, mungkin juga hidupmu.
Aku ingin mengatakan semuanya padamu Na.. namun seberapa ingin aku mengelurkan sebuah kata, semuanya terasa tertelan kembali kedalam tenggorokanku. Seberapa kuat aku ingin menulisnya, semuanya hanya berakhir sebagai halaman yang kosong. Aku takut bahwa apa yang ingin kuberi padamu hanya akan berakhir sebagi luka yang baru, karna kau tahu bahwa saat ini aku telah mencintai orang lain.  
***
Za,percayakah jika aku selalu jatuh cinta tiap kali kita bertemu?. mungkin sudah puluhan kali, dan semuanya terasa sama seperti saat kita pertama bertemu. rasa yang sama, tatapan yang sama, keanehan yang tiba-tiba menjalar dalam bisu yang juga sama. kemudian caraku merindu juga tak berubah. aku sedang menunggu, apakah takdir akhirnya menyerah padaku, dan mempertemukan kita berdua dalam kisah yang sama dibawah rintik hujan?.
Aku telah menyurutkan perasaan ini sejak lama, walaupun belum berhasil. Ingin sekali mengakui bahwa...” ya.. aku mencintaimu” dan mengatakannya tanpa ragu. Namun tak akan ada gunanya lagi ketika sepasang mata itu tak lagi melihat kearahku. Aku tahu saat ini tak bisa memiliki hatimu, atau bahkan sampai nantipun tak pernah bisa. Aku tak pernah berharap untuk tahu perasaanmu terhadapku. Cukup aku saja yang menyimpannya.
Saat ini, ku coba menekan semua perasaan terluka hingga kedasar. Mencoba untuk tidak menginginkannya. Menikmati waktu-waktu yang tersisa dengan perasaan ini. Bahwa aku mencintai dalam diam. Sakit, namun ikhlas. Terluka, namun pada akhirnya harus pasrah. Berusaha memaafkan, walaupun aku tak bisa menyalahkannya. Menganggap semua yang telah terjadi adalah sebuah kebodohan. Seperti perempuan yang cenderung berulang kali mencintai orang yang sama walaupun terus tersakiti. Berusaha memanjat dinding, walaupun tahu diseberang sana kau telah menyiapkan ranjau.
Mencintaimu buakanlah hal yang mudah Za!. Terkadang terasa sangat melelahkan, terkadang tak mampu lagi menahan rasa sakit dan cemburu. namun aku tak bisa berhenti. Kau tau Za? sebongkah hati kecil tak mampu menyangga cinta yang terlalu besar sendirian.
Sebenarnya aku tahu Tuhan sedang bermain dengan skenarionya. Dan aku tak mau mendahului takdirnya. Biarkan cintaku padamu menjadi milik ku sendiri. Bukankah ini akan menjadi sebuah kisah yang indah? Ketika kita mencoba mengikhlaskan semuanya dan membalutnya dalam doa. Bukankah kisah yang indah tidak berarti harus happy ever after dan saling mencintai selama-lamanya diakhir sebuah prolog dalam dongeng?. Aku sendiri yang akan membuat kisah ini indah Za, bukan orang lain.
***
Aku berdoa untukmu Na, ku katakan pada Tuhan agar tak membiarkanmu terluka, walaupun aku tahu itu mustahil. Mungkin, suatu saat kita akan merasakan hujan yang sama di jendela yang sama. atau kau akan bersama orang lain yang akan memelukmu dengan hangat, dan saat itu kau akan melepaskan ku dan membiarkannya bersama gerimis.................
Surabaya,14 jun 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar