Light Rain
Oleh: She,29.
(bagian tersulit dari kisah ini adalah ketika aku melihatmu mencintai orang
lain)
Kabut itu mulai
datang kala aku duduk sendiri disamping jendela. Perlahan, rintik-rintik hujan
mulai terasa membasahi tanganku. Mereka bergemricik hingga aku bisa
merasakan angin meniup kedua kelopak mataku
dengan lembut. “hujan... Za” gumamku................
Entah mengapa hujan begitu dekat
denganmu Za?, aku tak pernah tahu. Mungkin hujan laksana
manik-manik kaca yang memantulkan cahaya matamu. Mungkin juga hujan bekerja
secara mistis, mencairkan perasaanku dan membawa rasa ini yang tak
tahu lagi berubah warna menjadi apa?, berubah rasa seperti apa? dan berubah
bentuk menjadi apa?. namun yang pasti, perasaan itu ada, dan menempati sebuah
relung yang telah lama kosong.
Hujan,, memaksaku merindumu, menyusupkan banyak tanya tentangmu. Apakah
saat ini kau melihat hujan yang sama? merasakan perasaan yang sama? atau kau
tidak menyukai hujan dan sedang kedinginan disana? Atau mungkin kau sedang
menerawang dengan sebatang rokok dan segelas kopi panas?. Ah.. aku tak pernah
tahu, dan tak cukup berani untuk menanyakannya. Inilah aku, tak mampu berbuat
banyak dalam kisah ini.
Berapa kali hujan telah datang dan pergi dikota ini? Terkadang begitu deras,
sisanya hanya gerimis yang turun dengan manja. Entah saat gerimis dibulan apa,
ketika aku menatap takjub pada pelangi kembar dilangit pagi yang sayu. Saat itu
kusadari bahwa hatiku telah pergi bersama rintik-rintik terakhir, bahwa mataku
tak bisa lagi menatapmu dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Tak bisa lagi
menatapmu tanpa mengabaikan bahwa suatu saat kau akan mencintai orang lain.
Semuanya membuat sorot matamu yang biasa menjadi memancarkan sebuah makna yang
tak jelas, dan selalu menjadi sebuah teka-teki didalam tempurung kepalaku. Aku sadar telah memulainya dari sebuah
kepingan-kepingan yang membentuk sebuah rasa, kemudian berproses dari awal aku
mengenalmu hingga akhirnya tak sadar terjebak didalamnya.
***
“ya.. hujan Na”. Hujan yang sama,,,
di jendela yang berbeda. Hujan yang mengalirkan air kejalanan. Dan aku berusaha
membuat sebuah parit kecil untuk mengalirkannya kearahku, namun pada akhirnya
aku bingung karna muara ku belum siap menampung.
Takdir
memang lucu ya Na?, ruangan yang sama. Sudut yang juga sama. Pandangan yang
sama, saling mencari satu sama lain. Namun takdir mengatur kita untuk tidak
saling tahu, tidak saling mengerti dan tidak saling memberi tanda. Takdir
selalu membuat kita berfikir sebaliknya. Padahal.. semunya sama pada saat itu.
Tidak ada janji memang, hanya sebuah cinta. Karna semuanya bisa berubah begitu
saja dalam orang yang sama. Kau tahu Na? Saat itu benar-benar berat untukku.
Aku tak
pernah tahu bahwa kau menyimpan rasa yang sama. hanya saja aku terlalu ragu.
Maaf, yang kusesalkan adalah takdir yang tak berpihak pada kita saat itu. dan
takdir baru mengatakannya sekarang padaku. Aku memang hanya berani untuk
menyesal, membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Tidak ada satupun alasan
untuk menegakkan kisah ini. Tidak dengan ketidakmampuanku.
Aku hanya bisa berdiri diam. Merasakan, namun
berpura-pura tak merasakan getaran. Aku menerima dan menjalaninya dengan diam. Perasaan
ini seolah-olah menjadi salah ketika ditempatkan pada waktu dan orang yang
berbeda. Pasrah! Dan saat ini, aku pun merasa telah memenggal kehidupanku
sendiri, mungkin juga hidupmu.
Aku
ingin mengatakan semuanya padamu Na.. namun seberapa ingin aku mengelurkan
sebuah kata, semuanya terasa tertelan kembali kedalam tenggorokanku. Seberapa
kuat aku ingin menulisnya, semuanya hanya berakhir sebagai halaman yang kosong.
Aku takut bahwa apa yang ingin kuberi padamu hanya akan berakhir sebagi luka
yang baru, karna kau tahu bahwa saat ini aku telah mencintai orang lain.
***
Za,percayakah jika aku selalu jatuh cinta tiap kali kita bertemu?. mungkin sudah puluhan kali,
dan semuanya terasa sama seperti saat kita pertama bertemu. rasa yang sama,
tatapan yang sama, keanehan yang tiba-tiba menjalar dalam bisu yang
juga sama. kemudian caraku merindu juga tak berubah. aku sedang menunggu,
apakah takdir akhirnya menyerah padaku, dan mempertemukan kita berdua dalam
kisah yang sama dibawah rintik hujan?.
Aku
telah menyurutkan perasaan ini sejak lama, walaupun belum berhasil. Ingin
sekali mengakui bahwa...” ya.. aku mencintaimu” dan mengatakannya tanpa ragu.
Namun tak akan ada gunanya lagi ketika sepasang mata itu tak lagi melihat
kearahku. Aku tahu saat ini tak bisa memiliki hatimu, atau bahkan sampai nantipun tak
pernah bisa. Aku tak pernah berharap untuk tahu perasaanmu terhadapku. Cukup
aku saja yang menyimpannya.
Saat ini, ku coba menekan semua perasaan terluka hingga kedasar. Mencoba untuk
tidak menginginkannya. Menikmati waktu-waktu yang tersisa dengan perasaan ini.
Bahwa aku mencintai dalam diam. Sakit, namun ikhlas. Terluka, namun pada
akhirnya harus pasrah. Berusaha memaafkan, walaupun aku tak bisa
menyalahkannya. Menganggap semua yang telah terjadi adalah sebuah kebodohan.
Seperti perempuan yang cenderung berulang kali mencintai orang yang sama
walaupun terus tersakiti. Berusaha memanjat dinding, walaupun tahu diseberang
sana kau telah menyiapkan ranjau.
Mencintaimu buakanlah hal yang mudah Za!. Terkadang terasa sangat
melelahkan, terkadang tak mampu lagi menahan rasa sakit dan cemburu. namun aku
tak bisa berhenti. Kau tau Za? sebongkah hati kecil tak mampu menyangga cinta
yang terlalu besar sendirian.
Sebenarnya aku tahu Tuhan sedang bermain dengan skenarionya. Dan aku tak
mau mendahului takdirnya. Biarkan cintaku padamu menjadi milik ku sendiri. Bukankah
ini akan menjadi sebuah kisah yang indah? Ketika kita mencoba mengikhlaskan
semuanya dan membalutnya dalam doa. Bukankah kisah yang indah tidak berarti
harus happy ever after dan saling mencintai selama-lamanya diakhir sebuah
prolog dalam dongeng?. Aku sendiri yang akan membuat kisah ini indah Za, bukan
orang lain.
***
Aku berdoa untukmu Na, ku katakan pada Tuhan agar tak membiarkanmu terluka,
walaupun aku tahu itu mustahil. Mungkin, suatu saat kita akan merasakan hujan
yang sama di jendela yang sama. atau kau akan bersama orang lain yang akan
memelukmu dengan hangat, dan saat itu kau akan melepaskan ku dan membiarkannya
bersama gerimis.................
Surabaya,14 jun 2012