“20, 07, 2012”
“Sebenarnya apa”
Sekarang kau tau semuanya,, tentang
sebuah rahasia yang tak pernah ku perlihatkan bahkan lewat sepasang bola
mataku. Tapi,,, kau tak pernah membiarkanku tau. Kau hanya memberiku sebuah
peta harta karun, namun tak membuat satupun tanda agar aku bisa berjalan
kearahnya dan membuka tutupnya. Kau membiarkan aku berjalan tanpa arah dan
hanya berbekal sebuah peta buta.
Sekarang aku mulai lelah, entah
mengapa tak bisa lagi air mata ini mengalir,, sehingga semunya terasa sesak
didalam dada. Tak tau harus bagai mana lagi, bahkan setelah kutemukan kotak
harta karun itu, kau tak juga memberiku sebuah kunci. Aku berdarah, terseok,
dan tersayat-sayat. Tapi aku masih bisa berdiri dengan tegak, memperlihatkan
kotak yang kini ada di tanganku. Dan kau masih tak puas, menurutmu, ini
bukanlah sebuah luka. Bagimu aku baik-baik saja, aku masih tangguh dan bisa
berdiri dengan tegak. Yang kau maksud dengan terluka adalah aku mengibarkan
bendera putih dan tak mampu lagi berdiri, terengah dengan senggalan-senggalan
nafas yang hampir putus.
Kau tak pernah tau bahwa luka fisik
ini memang bukan apa2 bagiku. Kau tak pernah melihat kearah mataku, kau tak
pernah melihat bagai mana aku tertuntuk, dimana hatiku telah remuk tak
berbentuk, hitam dan nyaris rusak. Kau tak pernah tau itu. kau tak pernah tau.
Kau hanya bisa membisu, melihatku dari jauh dan berpura-pura tak pernah
memberiku peta buta itu.
Apa masalahnya????!!!bukankah aku tak
pernah meminta apapun dari mu? Aku tak pernah minta kau menjadi milik ku, karna
hasratku untuk memiliki telah pudar!. Aku tak pernah memintamu meinggalkan
siapa pun demi aku,, tak pernah.. sekalipun aku tak pernah. Aku hanya ingin tau, apakah kau masih ingin aku menjaga rasa ini?
Atau membiarkannya hanyut begitu saja?.
Aku hanya butuh kau berucap lapaskan,
dan aku akan berhenti seketika itu juga, atau kau akan bilang biarkan, dan aku
akan menjaganya. Hanya menjaga sebuah hati kecil, tak lebih dan tak pernah
berharap lebih................................................................
aku mulai lelah ,,, lelah sekali,, aku ingin berhenti, tapi bahkan kau tak mau
membuatnya berhenti hanya dengan berkata “lepaskan”. Kenapa? Aku gak bisa
setiap kali hanya menerka-nerka. tak bisa setiap kali harus mengartikan
kalimat-kalimatmu yang hanya sepenggal.
kamu, kalau kamu saja merasa sesak,,
bagaimana dengan aku? Pernahkan kamu membayangkan sulitnya menyimpan perasaan
ini sendiri? aku hanya ingin dilepaskan, jika memang itu yang kamu inginkan.
Atau kau akan menjaga perasaan ini,,,, aku hanya butuh kata darimu!!!. Gak
lebih.
Aku sedang belajar mencintai, Namun
sulit ketika kamu tak mau membantuku,,,, maaf, membawamu sejauh ini. Maaf...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar